(foto dari : Kontan online)Minggu, 04 Oktober 2009
UNESCO : Batik adalah bentuk budaya bukan warisan manusia
(foto dari : Kontan online)Selasa, 09 Desember 2008
Sejuta Gaya Batik
Jakarta: Geliat peragaan busana yang digelar di beberapa penjuru Tanah Air semakin bersinar. Beberapa waktu yang lalu, Kota "Gudeg" sekaligus kota dengan "Kampus Birunya "Yogyakarta rupa-rupanya tidak mau ketinggalan moment ini.
Dengan tema "Jogja Fashion Week (JFW) 2008", sebuah peragaan akbar yang digelar selama lima hari ini mengambil tempat di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Ajang yang menampilkan karya para perancang setempat dan melibatkan perancang dari kota lain, seperti Solo, Klaten, Pekalongan, Bandung, Semarang dan Bali.
"Batik kini menjadi idola, dipakai dalam berbagai kesempatan. Kian digemari tak hanya oleh kaum tua, orang muda pun mulai melirik dan menyukai batik. Ini sangat menggembirakan sekaligus menjadi tantangan," ujar Afif Syakur, perancang busana asal Pekalongan yang lama berkiprah di Yogyakarta.
Afif menyajikan tema "Culturally Plural" diharapkan dapat menjadi ajang promosi yang semakin dapat meningkatkan potensi industri tekstil dalam negeri. "Saya ingin masyarakat tahu batik pun bisa tampil dalam berbagai pernik, seperti tas, ikat pinggang, topi, bahkan sepatu."
Sementara itu, perancang Ari Sudewo menggelontorkan karya apiknya, terinspirasi dari ikat sarung. "Saya ingin masyarakat menyukai keindahan kain lokal Indonesia tidak hanya batik, tapi sarung juga jadi sumber inspirasi yang memikat," ucapnya. Di tangan Ari, terciptalah aneka busana sederhana dari ikat sarung. Dengan ragam sederhana tapi manis, ia menyajikan celana panjang warna cokelat hijau, blus lengan pendek bermotif garis-garis, blus cokelat hijau, dan sebagainya.
Lain halnya dengan Endi, perancang asal Bali, mengusung keindahan batik pesisiran ang terkenal dengan keberanian menampilkan aneka warna ceria. Ia menyajikan koleksi baju panjang, bagian atas berbentuk tank top, rok lebar berkerut, serta busana mini untuk saat bersantai yang di bagian bawahnya diberi aksen rempel.
"Dengan busana begini, saya ingin remaja atau kaum muda punya kebanggaan mengenakan batik. Mereka (para remaja) sangat cocok, menyukai batik bernuansa santai," tukas Endi.
Kemudian beberapa perancang lainnya, seperti Dewi Sifa, Cicik Mulyaningtyas (keduanya asal Yogyakarta), dan Zikin (Pekalongan) lagi-lagi mengusung batik dipadu tekstil polos. "Menghadirkan gaya padu padan begini sebagai alternatif yang semakin disukai para pecinta batik," papar Dewi bersemangat.
Untuk gaya serius dengan memadukan berbagai motif batik dengan brokat, songket, atau bordir disajikan perancang asal Yogyakarta, seperti Manik Puspita, Iis, Dina Isfandiary, dan Budi Susanto. "Keindahan batik akan lebih memukau bila dipadukan dengan brokat, songket, dan bordir. Selain nilai eksotis, batik bisa lebih tampil mewah menawan," ucap Manik.
Perancang Nita Azhar menyambut baik perhelatan ini. Di mata perancang batik senior asal Yogyakarta itu, JFW merupakan ajang positif yang memberikan ruang serta tempat bagi para perancang muda bisa terus maju, mengembangkan tekstil tradisional, serta semakin mencintai produk sendiri. "Biar bagaimanapun, para perancang harus mampu mendesain karya yang bisa dijual," ujarnya.
Sumber:Tempointeraktif.com
Senin, 24 November 2008
Batik dan Gaya Hidup
Sayang sekali industri Batik tersebut saat ini juga kebanjiran dengan Batik dari "Cina". Ada yang legal maupun ilegal harga jauh lebih murah. Tapi jangan takut kualitas jauh sekali berbeda dengan batik lokal kita. Batik lokal memiliki ciri pewarnaan yang matang dan tidak mudah pudar.
Menggunakan kerangka pikir tokoh Mahzab Frankfurt seperti Theodore Adorno dan Walter Benjamin, memakai batik bisa dikatakan sebuah bentuk tanda resistensi atas ‘budaya unggul’ (high culture). Mengenakan baju batik merupakan suatu simbol perlawanan atas ‘pakaian resmi’ (jas, dasi ataupun gaun). ‘Pakaian resmi’ yang dimaksud adalah sebuah bentukan dari budaya Barat (Eropa) yang telah diperkenalkan sejak dari jaman kolonial, dan rupanya terlanjur membingkai cara berpakaian kebanyakan orang Indonesia. ‘Pakaian resmi’ itu dianggap tidak mewakili identitas diri sebagai wong (orang) Indonesia. Maka dari itu, dengan memakai batik ada kebanggan tersendiri yaitu memakai identitas sendiri yang bisa ditunjukkan. Memainkan kalimat terkenal Decartes, ‘Saya memakai batik, maka saya ada—sebagai orang Indonesia.’
Namun menggunakan batik dalam acara resmi tidak selamanya disadari sebagai perlawanan yang ideologis, akan tetapi hal ini juga menyangkut hal-hal praktis dalam berpakaian. Walaupun dalam segi perawatan khususnya Batik tulis memang lebih rumit dari pada pakaian biasa, namun bila dibandingkan dengan jas atau gaun memerlukan yang memerlukan ‘perlakuan khusus’ sebetulnya Batik jauh lebih mudah dalam hal perwatan.
Beragam warna batik sangat bervariatif, sementara jas lebih didominasi warna-warna gelap (hitam atau coklat) dengan sedikit ditemui warna cerah. Desain baju batik pun sangat beragam tergantung kreativitas si penjahit, dibandingkan desain jas yang cenderung monoton. Meskipun berbicara tentang hal-hal praktis namun jelas ini adalah bentuk simplifikasi dari sebuah sistem fashion yang prosedural dan kaku.
Dalam sejarahnya, sesuai analisis Adorno, budaya perlawanan hampir selalu tidak berdaya ketika bertemu suatu sistem yang bernama, kapitalisme. Meskipun terkadang budaya perlawanan ini ditujukan sebagai bentuk "resistensi" terhadap kapitalisme, namun tidak sedikit budaya ini menjadi sasaran empuk bagi kapitalisme. Sebagai contoh , ketika John Lennon ingin mengkritik negara dan perang dia menulis "Imagine", yang ternyata kemudian menjadi hits membuat industri rekaman dan bisa meraup keuntungan yang besar. Jeans yang adalah pakaian ‘kelas dua’ di Amerika Serikat, karena merupakan pakaian para penggembala ternak (cowboy) kini telah menjadi pakaian segala umat di seluruh dunia. Bagi kapitalisme, semua hal (bahkan yang resisten terhadapnya sekalipun) dicium sebagai potensi untuk menghasilkan meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.
Kecenderungan ini juga terjadi pada batik. Tren batik saat ini jelas adalah suatu bentuk kompromi antara industri tradisional (pengrajin batik) dengan industri besar (garmen). Artinya, batik tidak lagi dibuat untuk digunakan hanya pada acara-acara resmi saja. Desain pakaian berbahan dasar batik sangat bervariatif dan sudah mulai populer dalam aktivitas sehari-hari, sehingga tidak ada kesan "formal". Menggeliatnya kembali industri batik ini dinikmati baik oleh pengrajin kecil maupun industri skala besar. Yang kita khawatirkan justru industri besar ini akan mengekploitasi industri kecil. Dengan menekan harga akan mematikan industri kecil, sehingga industri kecil hanya digunakan sebagai pemasok industri besar dengan menekan harga serendah-rendahnya. Semoga hal ini tidak terjadi.
Peran Pemerintah juga sangat penting dalam menunjang indusri Batik ini. Seharusnya industri batik dalam negeri di lindungi dengan melarang atau minimal dapat membatasi Batik asal China.
"STOP BATIK CHINA"
Bangkit "Batik Indonesia" !