HOME

Batik originally is made from art images with many dotted, it is native of Indonesian heritage. Now, Batik is famous in the world, proof that Indonesia has a high cultural value, and has been recognized and appreciated by the world community. The rise of the culture habits to wear batik everyday both for office clothes, casual or formal events have an impact on increasing the Indonesian people's economy ....... batik maker/entrepreneur has awaken the entrepreneurship in rural areas and reduce unemployment and urbanization to the capital city (Jakarta).

Remembering my childhood with my family environment who were batik craftsman and batik businessman, raised my spirit to come back in the world that have been left for decades by my family ancestors.

Regards
Multa Henriyono

Minggu, 23 Januari 2011

Shirt : Handwriting Batik
Size :XXL_2
Material : Cotton Prima
Price (IDR) : 160.000








Shirt : Handwriting Batik
Size :XXL
Material : Cotton Prima
Price (IDR): 160.000


SOLD





Shirt : Handwriting Batik
Size : XL
Material : Cotton Prima
Price (IDR) :150.000








Shirt : Handwriting Batik
Size :L
Material : Cotton Prima
Price (IDR) : 150.000








Shirt : Handwriting Batik - Colet
Size : XL
Material : Cotton Prima
Price (IDR): 175.000








Shirt : Handwriting Batik
Size : L
Bahan : katun Prima
Price (IDR) : 150.000








Shirts : Batik Printing
Size : XL
Material : Cotton Prima
Price (IDR) :70.000








Shirt : Batik Cap (Stamp)
Size :XL
Material : Cotton Prima
Price (IDR) : 80.000








Shirt : Batik Cap (Stamp)
Size : M
Material : Cotton Prima
Price (IDR) : 80.000








Shirt : Batik Cap (Stamp)
Size : L
Material : Cotton Prima
Price (IDR) :80.000

Kain Batik Anggun - Solo Indonesia

Limited Edition -- Call for Price ..

Handwriting Batik Textile
Type : Parang
Size : 3m
Material : Cotton Prima

SOLD



Batik Cap Textile
Type : Padi_1
Size : 2 m
Material : Cotton Prima
Price (IDR) : 70.000




Batik Cap Textile
Type : Padi_2
Size : 2
Material : Cotton Prima





Batik Cap Textile
Tyoe : Daun (Leaf)
Size : 2 m
Material : Cotton Prima





Batik Cap Textile
Tyope : Bunga_2 (flower_2)
Size : 2 m
Material : Cotton Prima





Batik Cap Textile
Type : Bunga_1 (Flower_1)
Size : 2 m
Material : Cotton Prima





Batik Cap Textile
Tyope : Abstrak
Size : 2 m
Material : Cotton Prima

Minggu, 04 Oktober 2009

UNESCO : Batik adalah bentuk budaya bukan warisan manusia

(foto dari : Kontan online)
Tanggal 02 Oktober 2009, merupakan hari yang sangat berarti bagi penikmat maupun pengarajin batik. Ya ...... pada tanggal tersebut United Nations Education Social and Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan batik sebagai bentuk budaya bukan benda warisan manusia ("UNESCO representative list of intengible cultural heritage of humanity"). Proses peresmian batik sebagai warisan budaya bukan benda itu berlangsung pada 28 September hingga 2 Oktober di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab."Presiden meminta tanggal 2 Oktober nanti masyarakat Indonesia memakai batik sebagai bentuk penghargaan terhadap batik," tukas Ical (Aburizal Bakrie). Terlihat pada tanggal 02 Oktober 2009 menyambut pengukuhan tersebut dimana-mana masyarakat antusias memakai batik.

Mari kita tumbuh kembangkan Batik tidak saja sebagai "intengible cultural heritage of humanity" namun juga dapat memberikan kemakmuran dan kemandirian bangsa dibidang ekonomi ...... kejayaan Batik di era tahun 70-an dapat kita ciptakan lagi, dengan dukungan pemerintah, pengusaha dan pengrajin kita yakin Batik dapat menumbuhkan sektor riil terutama didaerah. Menumbuhkan pengusaha-pengusaha muda yang ulet, tangguh dan tidak cengeng ....... amin.

Selasa, 09 Desember 2008

Sejuta Gaya Batik

Jakarta: Geliat peragaan busana yang digelar di beberapa penjuru Tanah Air semakin bersinar. Beberapa waktu yang lalu, Kota "Gudeg" sekaligus kota dengan "Kampus Birunya "Yogyakarta rupa-rupanya tidak mau ketinggalan moment ini.

Dengan tema "Jogja Fashion Week (JFW) 2008", sebuah peragaan akbar yang digelar selama lima hari ini mengambil tempat di Pagelaran Keraton Yogyakarta. Ajang yang menampilkan karya para perancang setempat dan melibatkan perancang dari kota lain, seperti Solo, Klaten, Pekalongan, Bandung, Semarang dan Bali.

"Batik kini menjadi idola, dipakai dalam berbagai kesempatan. Kian digemari tak hanya oleh kaum tua, orang muda pun mulai melirik dan menyukai batik. Ini sangat menggembirakan sekaligus menjadi tantangan," ujar Afif Syakur, perancang busana asal Pekalongan yang lama berkiprah di Yogyakarta.

Afif menyajikan tema "Culturally Plural" diharapkan dapat menjadi ajang promosi yang semakin dapat meningkatkan potensi industri tekstil dalam negeri. "Saya ingin masyarakat tahu batik pun bisa tampil dalam berbagai pernik, seperti tas, ikat pinggang, topi, bahkan sepatu."

Sementara itu, perancang Ari Sudewo menggelontorkan karya apiknya, terinspirasi dari ikat sarung. "Saya ingin masyarakat menyukai keindahan kain lokal Indonesia tidak hanya batik, tapi sarung juga jadi sumber inspirasi yang memikat," ucapnya. Di tangan Ari, terciptalah aneka busana sederhana dari ikat sarung. Dengan ragam sederhana tapi manis, ia menyajikan celana panjang warna cokelat hijau, blus lengan pendek bermotif garis-garis, blus cokelat hijau, dan sebagainya.

Lain halnya dengan Endi, perancang asal Bali, mengusung keindahan batik pesisiran ang terkenal dengan keberanian menampilkan aneka warna ceria. Ia menyajikan koleksi baju panjang, bagian atas berbentuk tank top, rok lebar berkerut, serta busana mini untuk saat bersantai yang di bagian bawahnya diberi aksen rempel.

"Dengan busana begini, saya ingin remaja atau kaum muda punya kebanggaan mengenakan batik. Mereka (para remaja) sangat cocok, menyukai batik bernuansa santai," tukas Endi.

Kemudian beberapa perancang lainnya, seperti Dewi Sifa, Cicik Mulyaningtyas (keduanya asal Yogyakarta), dan Zikin (Pekalongan) lagi-lagi mengusung batik dipadu tekstil polos. "Menghadirkan gaya padu padan begini sebagai alternatif yang semakin disukai para pecinta batik," papar Dewi bersemangat.

Untuk gaya serius dengan memadukan berbagai motif batik dengan brokat, songket, atau bordir disajikan perancang asal Yogyakarta, seperti Manik Puspita, Iis, Dina Isfandiary, dan Budi Susanto. "Keindahan batik akan lebih memukau bila dipadukan dengan brokat, songket, dan bordir. Selain nilai eksotis, batik bisa lebih tampil mewah menawan," ucap Manik.

Perancang Nita Azhar menyambut baik perhelatan ini. Di mata perancang batik senior asal Yogyakarta itu, JFW merupakan ajang positif yang memberikan ruang serta tempat bagi para perancang muda bisa terus maju, mengembangkan tekstil tradisional, serta semakin mencintai produk sendiri. "Biar bagaimanapun, para perancang harus mampu mendesain karya yang bisa dijual," ujarnya.

Sumber:Tempointeraktif.com

Selasa, 25 November 2008

Blus Batik

BATIK MAS SAGA


KLIK pada gambar untuk memperbesar.

Senin, 24 November 2008

Batik dan Gaya Hidup

Batik. Tren memakai batik belakangan ini cukup mencuri perhatian publik. Tidak biasanya, diluar hari Jumat batik digunakan sebagai pakaian kerja, terutama dilingkungan kantor pemerintahan. Namun saat ini semakin banyak saja orang mengenakan baju batik untuk keseharian. Gejala mulai mewabah di luar kota-kota seperti Jawa Tengah, Yogyakarta, Bandung dan Jakarta akan tetapi sudah merambah baik di pulau Jawa maupun diluar pulau Jawa. Hal ini berdampak pada industri Batik yang mulai bergeliat kembali, sebut saja di daerah Laweyan Solo yang tadinya seperti daerah mati (bekas pabrik batik) sekarang sudah mulai semarak dengan home industri-nya. Tak ektinggalan beberapa daerah di Jawa Timur seperti Malang, Madura, Sidoarjo, ataupun Banyuwangi dengan masing-masing ciri khas motif batik-nya.

Sayang sekali industri Batik tersebut saat ini juga kebanjiran dengan Batik dari "Cina". Ada yang legal maupun ilegal harga jauh lebih murah. Tapi jangan takut kualitas jauh sekali berbeda dengan batik lokal kita. Batik lokal memiliki ciri pewarnaan yang matang dan tidak mudah pudar.

Menggunakan kerangka pikir tokoh Mahzab Frankfurt seperti Theodore Adorno dan Walter Benjamin, memakai batik bisa dikatakan sebuah bentuk tanda resistensi atas ‘budaya unggul’ (high culture). Mengenakan baju batik merupakan suatu simbol perlawanan atas ‘pakaian resmi’ (jas, dasi ataupun gaun). ‘Pakaian resmi’ yang dimaksud adalah sebuah bentukan dari budaya Barat (Eropa) yang telah diperkenalkan sejak dari jaman kolonial, dan rupanya terlanjur membingkai cara berpakaian kebanyakan orang Indonesia. ‘Pakaian resmi’ itu dianggap tidak mewakili identitas diri sebagai wong (orang) Indonesia. Maka dari itu, dengan memakai batik ada kebanggan tersendiri yaitu memakai identitas sendiri yang bisa ditunjukkan. Memainkan kalimat terkenal Decartes, ‘Saya memakai batik, maka saya ada—sebagai orang Indonesia.’

Namun menggunakan batik dalam acara resmi tidak selamanya disadari sebagai perlawanan yang ideologis, akan tetapi hal ini juga menyangkut hal-hal praktis dalam berpakaian. Walaupun dalam segi perawatan khususnya Batik tulis memang lebih rumit dari pada pakaian biasa, namun bila dibandingkan dengan jas atau gaun memerlukan yang memerlukan ‘perlakuan khusus’ sebetulnya Batik jauh lebih mudah dalam hal perwatan.

Beragam warna batik sangat bervariatif, sementara jas lebih didominasi warna-warna gelap (hitam atau coklat) dengan sedikit ditemui warna cerah. Desain baju batik pun sangat beragam tergantung kreativitas si penjahit, dibandingkan desain jas yang cenderung monoton. Meskipun berbicara tentang hal-hal praktis namun jelas ini adalah bentuk simplifikasi dari sebuah sistem fashion yang prosedural dan kaku.

Dalam sejarahnya, sesuai analisis Adorno, budaya perlawanan hampir selalu tidak berdaya ketika bertemu suatu sistem yang bernama, kapitalisme. Meskipun terkadang budaya perlawanan ini ditujukan sebagai bentuk "resistensi" terhadap kapitalisme, namun tidak sedikit budaya ini menjadi sasaran empuk bagi kapitalisme. Sebagai contoh , ketika John Lennon ingin mengkritik negara dan perang dia menulis "Imagine", yang ternyata kemudian menjadi hits membuat industri rekaman dan bisa meraup keuntungan yang besar. Jeans yang adalah pakaian ‘kelas dua’ di Amerika Serikat, karena merupakan pakaian para penggembala ternak (cowboy) kini telah menjadi pakaian segala umat di seluruh dunia. Bagi kapitalisme, semua hal (bahkan yang resisten terhadapnya sekalipun) dicium sebagai potensi untuk menghasilkan meraup keuntungan yang sebesar-besarnya.

Kecenderungan ini juga terjadi pada batik. Tren batik saat ini jelas adalah suatu bentuk kompromi antara industri tradisional (pengrajin batik) dengan industri besar (garmen). Artinya, batik tidak lagi dibuat untuk digunakan hanya pada acara-acara resmi saja. Desain pakaian berbahan dasar batik sangat bervariatif dan sudah mulai populer dalam aktivitas sehari-hari, sehingga tidak ada kesan "formal". Menggeliatnya kembali industri batik ini dinikmati baik oleh pengrajin kecil maupun industri skala besar. Yang kita khawatirkan justru industri besar ini akan mengekploitasi industri kecil. Dengan menekan harga akan mematikan industri kecil, sehingga industri kecil hanya digunakan sebagai pemasok industri besar dengan menekan harga serendah-rendahnya. Semoga hal ini tidak terjadi.

Peran Pemerintah juga sangat penting dalam menunjang indusri Batik ini. Seharusnya industri batik dalam negeri di lindungi dengan melarang atau minimal dapat membatasi Batik asal China.

"STOP BATIK CHINA"

Bangkit "Batik Indonesia" !

Selasa, 21 Oktober 2008

Tips Merawat Batik

Batik merupakan salah satu warisan budaya bangsa Indonesia yang tak ternilai. Kini bahan batik berkembang tidak hanya terbuat dari kain mori saja, melainkan juga dari katun, serat ulat sutera, serat nanas, sutera, dan lainnya. Merawat Batik perlu seni dan pengetahuan tersendiri, khususnya batik tulis sehingga batik dapat terjaga tetap awet, tahan lama, warna tidak pudar dan tetap tampak indah.
Menurut salah seorang pengusaha batik KRT Daud Wiryo Hadinagoro, hal-hal yang perlu diperhatikan dalam meraeat Batik antara lain :\
1. Jangan pernah menggosok batik pada saat mencuci . Jangan menggunakan sabun deterjen. Kalau batik tidak kotor cukuplah dicuci menggunakan air hangat. Sedangkan, kalau kotor, misal karena noda makanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau bila kotor sekali, seperti terkena buangan knalpot, pakailah kulit jeruk untuk menghilangkan nodanya pada bagian yang kotor.
2. Setelah kotoran hilang, jemurlah di tempat teduh. Tak perlu memeras kain batik sebelum menjemurnya. Namun, pada saat menjemur, bagian tepi kain agak ditarik pelan-pelan supaya serat yang terlipat kembali seperti semula.
3. Sedapat mungkin hindari penyeterikaan. Bila terlalu kusut, semprotlah dengan air di atas kain kemudian letakkan sebuah alas kain di bagian atas batik itu baru diseterika. Jadi, yang diseterika adalah kain lain yang ditaruh di atas kain batik.
4. Sangat dianjurkan menyimpan kain batik dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Jangan diberi kapur barus, karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak batik. Berilah merica yang dibungkus dengan tisu pada almari tempat menyimpan batik untuk mengusir ngengat. Alternatif lain bisa menggunakan akar wangi yang sebelumnya dicelup terlebih dahulu ke dalam air panas, kemudian dijemur, lalu dicelup sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi kering, baru digunakan.

Selamat Merawat Batik anda......